secangkir madu hangat
aku duduk di teras sambil menyeruput secangkir madu hangat. itu kesukaanmu juga. kamu bilang, cuma kopi yang belum pernah aku seduhkan untukmu. aku hanya tersenyum malu. menyimpan semburat merah pipi maluku. lalu, kita bercanda ria sambil menyeruput madu hangat dan sesekali kau lontarkan candaan manis di setiap tawa, di setiap resah, dan di setiap ada amarah. candaan yang selalu bisa membawa kita kembali kepada keadaan yang riang.
aku duduk di teras sambil menyeruput secangkir madu hangat. kali itu kamu tidak datang. tapi, aku melihat semburat tawamu melewati pagar, pergi menggenggam peracik madu lain. aku pikir itu hanya fatamorgana, tapi bukan. mungkin kamu hanya sekali tak sempat singgah, pikirku. lalu, aku kembali menyeruput secangkir madu hangat, sendiri.
aku duduk di teras sambil menyeruput secangkir madu hangat. sudah beribu cangkir madu hangat aku seruput hingga hari ini. dan kamu, tidak pernah datang lagi. aku mendengar sayup berita, kamu bersama peracik madu lain. yah, memang saatnya hidup terus berputar. bahkan harus kita berjalan sendiri-sendiri. berdampingan itu manis, tapi jika tidak sejalan, akan hambar. pergi lah dengan kenangan-kenangan manis itu, suatu saat mungkin ada persimpangan untuk kita bersua. mungkin.
aku duduk di teras sambil menyeruput secangkir madu hangat, sendiri.